The Face Of Gen Z

Profil Anak Muda Zaman Now

Generation Z

Apa yang menarik dari nama kuartet ateis beken yang dikenal sebagai the four horsemen? Tiga dari mereka memiliki nama Kristen: Daniel Denett, Samuel Benjamin Harris, dan Christopher Hitchens. Richard Dawkins pun juga dibesarkan dalam keluarga Kristen. Dawkins menceritakan bahwa Ia memegang kepercayaan orang tuanya hingga masa remajanya sebelum menemukan bahwa teori evolusi Darwin mampu menjelaskan kompleksitas mahkluk hidup dengan sangat elegan. 

Kisah Dawkins yang tumbuh dalam keluarga kristen dan meninggalkan imannya disaat remaja bukanlah sebuah anomali. Survey yang dilakukan Barna Group di tahun 2018 mengungkapkan bahwa hampir dua pertiga remaja yang tumbuh dalam keluarga kristen di Amerika meninggalkan gereja di usia 20an. Tumbuh di sekolah kristen saya menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman disekitar saya sudah mulai secara diam-diam meninggalkan imannya. Mungkin dalam kehidupan anda pun, anda mengenal pemuda-pemudi yang dulunya setia kepada Tuhan meninggalkan iman mereka saat memasuki jenjang perkuliahan.

Jika gereja Tuhan ingin tetap relevan di masa yang akan datang, maka penting bagi gereja untuk dapat menjangkau generasi yang sering disebut generasi Z ini. Kita perlu mengenali tentang mereka dan bagaimana mereka memandang peranan iman mereka dalam kehidupan mereka. Gereja perlu menyadari bahwa generasi ini adalah generasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya dan terlahir dalam konteks dan latar belakangnya tersendiri, sehingga diperlukan usaha khusus untuk menjangkau mereka.  Sebagai seorang yang berasal dari generasi ini izinkan saya memperkenalkan generasi ini pada anda serta memberi beberapa saran dalam menjangkau generasi ini.

Digital Natives

Generasi Z mencakup populasi yang lahir di atas tahun 1995 hingga awal tahun 2010. Seringkali disebut “digital natives”, generasi ini lahir di era dimana teknologi sudah begitu canggih dan ditandai dengan kepiawaiannya dalam menggunakan teknologi untuk mendapatkan informasi. Survey yang dilakukan Statista di bulan Maret 2020 menunjukan bahwa lebih dari 61% anggota generasi ini menggunakan social media untuk mendapatkan berita setiap harinya. 

Berbeda dengan generasi sebelumnya, akses informasi yang hanya satu klik saja membuat generasi ini terekspos pada banyak sekali pandangan berbeda sejak usia dini. Generasi ini dididik di tengah diskursus dan perbedaan pendapat. Celakanya hal ini seringkali tidak disertai dengan pengembangan sebuah kerangka berpikir yang dapat digunakan untuk mengevaluasi diskursus tersebut. Trend ini menumbuhkan generasi yang menyebut diri mereka liberal dan toleran akan perbedaan pendapat dimana memaksakan suatu pandangan sebagai kebenaran menunjukan bahwa anda adalah seorang yang fanatik dan intoleran. Alhasil otoritas yang menyatakan kebenaran menjadi hal yang menakutkan bagi generasi ini. 

Walaupun sebagai umat Kristen kita percaya akan kebenaran mutlak firman Tuhan, menyatakan hal tersebut secara dogmatis mungkin bukanlah cara paling efektif dalam menjangkau generasi Z. Yang dibutuhkan oleh generasi Z adalah teman untuk berpikir dan mengeksplorasi. Menunjukan sikap terbuka dan kejujuran secara intelektual merupakan hal yang penting dalam menjangkau generasi Z. Alih-alih menyatakan kebenaran alkitab sebagai kebenaran yang bersifat dogmatis, kita harus lebih berfokus untuk menunjukan kebenaran alkitab sebagai kebenaran yang masuk akal dan menarik untuk dihidupi.

Who Am I?

Tumbuh erat dengan social media membuat identitas diri menjadi tema yang sangat penting bagi generasi ini. Bagaimana saya dilihat oleh orang-orang disekitar saya sangatlah penting. Tak heran berdasarkan survey yang dilakukan oleh Barna Group di tahun 2016 menunjukan bahwa 43 persen Generasi Z menganggap profesi dan prestasi mereka sebagai bagian penting dalam identitas mereka. Generasi ini juga terobsesi dengan bagaimana mereka dapat berkontribusi secara positif pada lingkungan mereka.

Namun, agaknya gereja justru kurang siap dalam menyongsong generasi ini. Sebut saja bidang sains yang saya dalami, di Indonesia lebih dari 32 persen mahasiswa akan masuk dalam jurusan STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics). Namun survey yang dilakukan Barna Group di tahun 2009 menunjukan bahwa hanya 1 persen youth pastors di Amerika yang membahas isu sains dalam 1 tahun terakhir. Suatu kondisi yang nampaknya tidak banyak berbeda dengan Indonesia masa kini. Tidaklah aneh jika gereja akhirnya kehilangan banyak ilmuwan dan orang-orang yang sebenarnya berpotensi untuk menjadi role model positif bagi generasi berikutnya.

Sebuah teologi vokasional konkrit perlu dibangun oleh gereja Tuhan untuk menuntun orang-orang kristen agar dapat mengintegrasikan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan mereka. Alkitab secara gamblang memanggil orang percaya untuk memberikan diri kita beserta segala kemampuan kita sebagai alat untuk memuliakan nama Tuhan termasuk melalui profesi kita. Orang-orang kristen harus mampu menunjukan secara riil bagaimana iman kristen mereka memberi mereka kemampuan untuk berkontribusi secara positif dalam profesi mereka dengan jauh lebih efektif dibandingkan dengan rekan-rekan non kristen mereka.

The “Need Help” Generation

Sangat ironis bahwa generasi yang lahir di era teknologi yang seharusnya menyenangkan hidup manusia ini juga menjadi generasi yang paling terserang oleh masalah-masalah kesehatan mental mulai dari stress, kecemasan, depresi, hingga pemikiran bunuh diri. Kesehatan mental menjadi topik yang sangat penting bagi generasi Z. Kekeringan spiritual ini terlihat dengan bertambah populernya gerakan new age spirituality di kalangan anak muda. Sebuah gerakan spiritualitas yang menitik beratkan pada menjalani kehidupan yang autentik dan merayakan jati diri seseorang. 

Gereja Tuhan seharusnya menjadi ujung tombak dalam upaya menyembuhkan generasi yang hancur ini, lagipula kepala dari gereja Tuhan adalah sosok satu-satunya yang dapat memenuhi kehausan hati manusia. Namun sangat disayangkan, seringkali hak istimewa ini malah membuat orang membuat menganggap remeh isu kesehatan mental. Depresi dan kecemasan dianggap sebagai tanda kurangnya iman seseorang dan dapat dihilangkan hanya dengan doa saja. Alih-alih menjadi tempat dimana anak muda dapat merasa diterima dan mendapatkan rasa aman gereja justru menjadi batu sandungan. Tidak heran jika akhirnya generasi ini lari dari gereja menuju lembaga lain yang memberi tawaran yang lebih menarik.

Memang pada akhirnya hanya Tuhanlah yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia, memang (dan saya akan sangat hati-hati dalam mengatakan hal ini) masalah kesehatan mental adalah akibat dari kejatuhan manusia kedalam dosa. Namun masalah ini adalah masalah yang sangat serius dan perlu ditanggapi secara serius pula. Sebagai permulaan gereja dapat menjadi tempat dimana generasi Z dapat kembali mendapat koneksi mendalam yang seringkali hilang di dunia modern. Selain itu, gereja perlu menyadari bahwa masalah mental adalah masalah yang sangat kompleks dan perlu ditelaah bukan hanya dari dimensi spiritualnya tapi juga dari dimensi naturalnya. Oleh sebab itu, adalah langkah yang sangat bijak jika gereja juga dapat mengambil kearifan dari ilmu psikologi populer dalam menghadapi generasi yang hancur ini. Gereja perlu menjadi partner atau bahkan memimpin upaya lembaga – lembaga sekuler dalam menghadapi isu kesehatan mental.

A Wonderful Time To Serve

Selama hampir 2000 tahun berdiri, gereja Tuhan telah diberi kesempatan untuk memuridkan berbagai generasi, masing-masing dengan peluang dan tantangannya sendiri. Lahir di era dimana teknologi begitu canggih, generasi Z diberi kemampuan untuk menguasai bumi dalam skala yang tidak terbayangkan sebelumnya. Oleh sebab itu, memuridkan generasi ini menjadi tugas yang sangat penting bagi gereja dalam menjalankan tugasnya menjadi teman sekerja Allah dalam merealisasikan kehendak Allah di bumi ini. Jika berhasil, maka dengan kemampuan teknologi, generasi ini mampu merealisasikan kehendak Allah di alam semesta dalam skala yang luar biasa. It is a wonderful time to serve.

Share This Article
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Gennesaret Tjusila

Gennesaret Tjusila

Saya seorang mahasiswa jurusan matematika di TU Berlin yang gemar membaca, menulis, dan programming. Selain matematika dan teknologi, saya juga menyukai filosofi dan psikologi. Saya sangat antusias untuk mengembangkan diri saya dan orang lain.
Gennesaret Tjusila

Gennesaret Tjusila

Saya seorang mahasiswa jurusan matematika di TU Berlin yang gemar membaca, menulis, dan programming. Selain matematika dan teknologi, saya juga menyukai filosofi dan psikologi. Saya sangat antusias untuk mengembangkan diri saya dan orang lain.

Baca Juga

Generation Z

The Face Of Gen Z

Dua dari tiga anak muda di Amerika Serikat meninggalkan gereja di awal usia 20an mereka setelah tumbuh di gereja dari masa kecil. Bagaimana kita dapat menjangkau anak muda masa kini agar hal yang sama tidak terulang? Mari kita kenali generasi yang sering disebut generasi Z ini.

Read More »